Angka Penceraian di Abdya Sampai Bulan November Tahun 2022 Meningkat

-6 Dilihat

SIGUPAINEWS.com | ABDYA – Mahkamah Syar’iyah Blangpidie menyebutkan, data angka penceraian di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh, sampai dengan bulan November tahun 2022 ini mencapai 181 perkara. Namun angka perceraian itu mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan sepanjang tahun 2021

Ketua Mahkamah Syar’iyah Blangpidie Muhammad Nawawi, S.H.I., M.H., mengatakan, dari 181 perkara perceraian di tahun 2022 ini, angka cerai gugat lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka cerai talak.

“Angka cerai gugat mencapai 145 perkara, sedangkan cerai talak hanya 36 perkara,” sebut Ketua Mahkamah Syar’iyah Blangpidie Muhammad Nawawi, saat di jumpai SIGUPAINEWS.com, pada Kamis (1/12/2022).

Baca juga

Angka perceraian pada 2021, sebutnya, mencapai 155 perkara dengan rincian cerai gugat sebanyak 118 perkara dan cerai talak sebanyak 37 perkara.

“Lebih tinggi angka cerai gugat atau jika dibandingkan dengan cerai talak,” terangnya.

Menurut Muhammad Nawawi, secara umum penyebab utama terjadinya perkara cerai gugat itu, karena faktor ekonomi yang tidak mencukupi, suami meninggalkan istri, suami kawin lagi, dan juga beberapa penyebab lainnya.

“Penyebabnya memang sangat beragam, namun hal itu sangat disayangkan. Sebab dengan perceraian tentu akan banyak yang dikorbankan, terutama anak,” paparnya.

Sejauh ini, sebutnya, pihaknya selalu berupaya melakukan mediasi agar perceraian itu tidak terjadi. Para pasangan suami istri (pasutri) yang mengajukan cerai talak maupun cerai gugat sudah bulat tekadnya untuk bercerai.

“Seharusnya perkara perceraian masih dapat diupayakan dengan mediasi agar hubungan tersebut tetap berlanjut,” ucap Nawawi

Selanjutnya, Ketua Mahkamah Syar’iyah Blangpidie Muhammad Nawawi meminta, supaya Pemerintah Daerah (Pemda) setempat bersinergi¬† dengan Makamah Syariah untuk melakukan penyuluhan hukum di tingkat kecamatan bahkan sampai ke desa.

“Jadi kalau ini bisa kita laksanakan, kami siap memberikan materi penyuluhan hukum kepada masyarakat atau aparatur desa nantinya, agar angka penceraian di Abdya menurun. Kebanyakan penyebab penceraian yang terjadi saat ini rata-rata faktor ekonomi, perjudian, dan narkoba,” pungkas Muhammad Nawawi. (Fit)