Pertahankan Adat, MAA Abdya Ibarat Siseue’ di Ateueh Bate

oleh -29 Dilihat
Ketua MAA Abdya T. Cut Amri. (Foto : Fitria Maisir/SIGUPAINEWS.COM)

SIGUPAINEWS.COM|ABDYA – Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyuarakan keprihatinan atas kondisi pelestarian adat dan istiadat yang ada di kabupaten yang berjulukan Bumoe Breuh Sigupai.

Menurut lembaga yang ber sekretariat di jalan Muslimin Meudang Ara Kecamatan Blangpidie itu
adat dan istiadat yang merupakan warisan leluhur dan identitas masyarakat Aceh semakin terkikis oleh perkembangan zaman dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjunjung tinggi kaidah syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Baca juga

“Adat dan istiadat yang ada di Bumoe Breuh Sigupai ini adalah aset berharga yang harus kita jaga dan lestarikan. Namun sayangnya, kian hari semakin memudar dan terlupakan,”ungkapnya Ketua MAA Abdya T. Cut Amri pada SIGUPAINEWS.COM diruang kerja. Selasa (5/12/2023).

Namun demikian, T. Cut Amri juga menyampaikan, perumpamaan dalam bahasa Aceh untuk menggambarkan nasib MAA sebagai lembaga yang bertugas mengurus dan mengawal adat dan istiadat.

“MAA Ibarat Siseue’ Diateueh Bate, Hudep Handitem Mate Pih Hana Tente,” artinya, MAA ibarat lumut di atas batu, hidup tak mau, mati pun tak tentu,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan Dewan perwakilan rakyat dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar kepada MAA agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Salah satunya adalah dengan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk MAA, sehingga dapat melakukan pembinaan dan sosialisasi budaya, adat dan istiadat di setiap desa secara berkala.

“Dengan anggaran yang cukup, kami dapat membuat program-program yang bermanfaat untuk melestarikan budaya, adat dan istiadat yang ada di Abdya ini.jujurĀ  Kami tidak ingin melihat budaya, adat dan istiadat ini hilang ditelan zaman dan tidak sesuai dengan tatanan syariat Islam,” tuturnya.

Lebih lanjut Ketua MAA Abdya T. Cut Amri juga mendukung salah satu gagasan dari Imum Mumkim Setia yang memprogramkan tetang pembinaan pelestarian kebudayaan adat dan istiadat, selain Keuchik dan Tuha peut dan para kadus – kadus, contohnya seperti pemulangan ranup tunangan yang di ikat dengan perjanjian antara pihak laki-laki dan perempuan, dan serta antar linto baroe.

“Program Imum mukim setia itu adalah satu contoh yang patut dilestarikan di desa-desa, karena di area zaman sekarang budaya seperti itu sudah hilang, kalau mengenai adat ada tapi syariatnya yang hilang,” pungkasnya.(*)